Bayangkan sebuah perpustakaan raksasa yang tiba-tiba terbakar habis. Itulah yang terjadi setiap kali sebuah bahasa punah dari muka bumi. Bukan sekadar kumpulan kata yang hilang, tetapi seluruh cara pandang, kebijaksanaan leluhur, dan identitas sebuah komunitas ikut lenyap tanpa jejak.
Di antara ribuan bahasa yang pernah berkumandang di berbagai penjuru dunia, ratusan kini hanya tinggal kenangan. Faktor utamanya ironis, yaitu pemilik bahasa sendiri yang tidak mewariskannya. Ketika nenek moyang memilih diam dan tidak mengajarkan bahasa ibu kepada generasi penerus, gelombang bahasa dominan pun menghempas tanpa perlawanan. Penasaran bahasa apa saja yang telah punah? Mari kita telusuri.
Bahasa Britonik: Suara Kuno Pulau Inggris
Jangan salah sangka, sebelum bahasa Inggris mendominasi, penduduk Britania Raya berbicara dalam Britonik sejak abad ke 6 Masehi. Bahasa ini pernah digunakan di wilayah Wales, Skotlandia, dan Irlandia Utara.
Namun zaman berubah. Munculnya bahasa Inggris dan Irlandia perlahan menggerus eksistensi Britonik. Yang memperparah, tidak ada satu pun dokumen tertulis dalam bahasa ini yang tersisa. Tanpa catatan, tanpa bukti, bahasa Britonik pun menguap seperti kabut pagi.
Bahasa Misia: Tenggelam Bersama Imperium
Di Anatolia bagian barat laut, bahasa Misia pernah hidup dari abad ke 5 SM hingga abad ke 1 SM. Singkat, tetapi bermakna. Sayangnya, bahasa Misia tidak sendirian dalam kepunahannya. Bahasa Anatolia lainnya seperti Frigia dan Galatia bernasib sama. Ketika wilayah Anatolia jatuh ke tangan Turki, bahasa Turki mengambil alih, dan bahasa bahasa lokal pun terkubur dalam sejarah.
Bahasa Pazeh: Suara Terakhir dari Taiwan
Pan Jin yu, seorang perempuan Taiwan, adalah penutur terakhir bahasa Pazeh. Dengan penuh semangat, ia pernah menawarkan kelas bahasa kepada 200 anak, berharap menyalakan kembali api yang hampir padam. Namun harapan itu pupus ketika Pan Jin yu meninggal pada 2010. Bersamanya, bahasa Pazeh menghembuskan napas terakhir selamanya.
Indonesia: Darurat Kepunahan Bahasa Daerah
Siapa sangka, negeri yang kaya akan keberagaman ini juga menyimpan luka. Hasil penelitian Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud RI periode 1991 hingga 2017 mengungkap fakta mencengangkan, yaitu 13 bahasa daerah di Indonesia telah punah. Sebelas di antaranya berasal dari Maluku, dan dua dari Papua.
Bahasa Kayeli: Sirna dari Rumahnya Sendiri
Dulu, bahasa Kayeli mengiringi keseharian masyarakat Desa Kayeli, Maluku, mulai dari obrolan di rumah, upacara perkawinan, hingga penyelesaian konflik. Kini, kajian vitalitas bahasa tahun 2011 menempatkan Kayeli dalam status punah. Penutur terakhirnya hanya satu orang, dan ironisnya ia bahkan tidak lagi tinggal di Desa Kayeli. Bahasa itu mati di tanah kelahirannya sendiri.
Bahasa Mawes: Terisolasi hingga Terlupakan
Masyarakat Kampung Maweswares, Distrik Bonggo, Kabupaten Sarmi, Papua, adalah penutur bahasa Mawes. Hasil dialektometri menunjukkan perbedaan 81 hingga 100 persen dengan bahasa tetangganya, bukti betapa uniknya bahasa ini. Namun keunikan tidak selalu menjamin kelangsungan hidup. Tanpa upaya pelestarian, bahasa Mawes perlahan menghilang dari percakapan sehari hari.
Bahasa Tandia: Mati dengan Penutur Terakhirnya
Kampung Tandia, Distrik Rasie, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, kehilangan penutur terakhir bahasa Tandia pada tahun 2001 hingga 2002. Yang lebih menyedihkan, anak anak di kampung itu sama sekali tidak memahami bahasa Tandia. Transmisi bahasa dari orang tua terputus total. Dari 1.089 kosakata, hanya 34 yang masih diingat, itu pun samar samar.
Pelajaran Berharga: Jaga atau Punah
Kepunahan bahasa bukan sekadar statistik menyedihkan. Ini adalah peringatan keras bagi kita semua, terutama generasi muda, bahwa bahasa daerah adalah harta karun yang tidak bisa dibeli dengan emas sebanyak apa pun.
Saatnya kita tidak sekadar menghargai, tetapi juga aktif menjaga bahasa bahasa dunia dan daerah, khususnya di lingkungan kita sendiri. Jangan sampai suatu hari nanti anak cucu kita hanya bisa membaca tentang bahasa nenek moyang mereka di museum. Mari kita pastikan tidak ada lagi bahasa yang menghilang tanpa bekas.
Rujukan:
https://bertumbuh.xyz/bahasa-bahasa-yang-sudah-punah-di-dunia/




Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadi yang pertama!