Annyeonghaseyo (안녕하세요) Lingfriends!

Bukchon Hanok Village atau Desa Bukchon Hanok adalah desa tradisional Korea di seoul dengan sejarah panjang yang terletak di puncak bukit antara Istana Gyeongbok, Istana Changdeok dan Kuil kerajaan Jongmyo. Seoul artinya “ibu kota” yaitu secara resmi dikenal sebagai Kota Khusus Seoul, adalah ibu kota Korea Selatan yang berusia lebih dari 600 tahun dan hingga 1945, ibu kota dari seluruh Korea. Changdeokgung juga dikenal sebagai Istana Changdeokgung atau Istana Changdeok , terletak di dalam sebuah taman besar di Distrik Jongno, Seoul, Korea Selatan. Ini adalah salah satu dari “Lima Istana Agung” yang dibangun oleh raja-raja Dinasti Joseon (1392–1897). Desa tradisional terdiri dari banyak gang, hanok dan dilestarikan untuk menunjukkan lingkungan perkotaan berusia 600 tahun.

Area Bukchon , yang terdiri dari lingkungan Wongseo-dong, Jae-dong, Gye-dong, Gahoe-dong, dan Insa-dong secara tradisional merupakan pemukiman pejabat tinggi pemerintah dan bangsawan selama dinasti joseon. itu terletak di utara sungai cheonggye dan jongno maka dinamai Bukchon yang berarti desa utara. Bukchon berarti “desa utara”. Nama ini disematkan kepada distrik ini karena lokasinya yang berada di sebelah utara dua ikon Seoul, Sungai Cheonggye dan Distrik Jongno. Menurut kepercayaan Konfusianisme dan pungsu, lokasi desa ini sangat strategis, yakni di kaki selatan gunung yang menghubungkan Pergunungan Baegak dan Eungbongsan. Desa ini juga dikelilingi hutan rindang dengan panorama yang indah. Konfusianisme adalah memperbaiki dan menyeimbangkan hubungan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain, hubungan antara manusia dengan masyarakat, bangsa dan negara.

Kejayaan desa ini sempat berakhir pada akhir masa Dinasti Joseon. Alasan sosial ekonomi dan juga derasnya arus urbanisasi membuat tanah yang luas terbagi menjadi bangunan-bangunan kecil. Sejumlah hanok pun sempat dirobohkan. Perubahan kondisi sosial membuat masyarakat biasa mulai menempati desa ini. Hanok bahkan dikaitkan dengan keluarga miskin karena mereka tidak mampu membeli rumah yang lebih modern.

Bangunan hanok banyak yang dirobohkan atau ditinggalkan ketika kaum urban berbondong-bondong menuju kompleks apartemen di Kota Seoul. Hanok juga banyak dihancurkan untuk membangun jalan bagi perkantoran dan perumahan yang lebih modern. Namun upaya konservasi, termasuk undang-undang yang ketat telah berhasil bangunan hanok yang tersisa. Saat ini, ada sekitar 900 rumah tradisional Korea yang masih berdiri. Kini Desa Bukchon Hanok menjadi daya tarik favorit para pemuda Korea.

Struktur hanok dan suasana desa tradisional menjadikan kawasan ini semakin diminati oleh banyak orang. Fasilitas yang tersedia pun cukup lengkap untuk memenuhi kebutuhan para pengunjung. Selain sebagai tempat tinggal, bangunan hanok kini juga dimanfaatkan sebagai museum budaya serta workshop bagi para pengrajin yang melestarikan kerajinan tradisional. Hal ini membuat kekayaan sejarah dan budaya di distrik ini tetap terjaga hingga saat ini. Tak hanya itu, lorong-lorong di Bukchon Hanok Village juga menjadi daya tarik tersendiri yang digemari para wisatawan.

Tertarik untuk mengenal budaya Korea lebih dalam? Yuk, bergabung dengan Linguo dan mulai perjalanan belajar bahasa Korea kamu. Cek infonya di website linguo.id minling tunggu kehadiran kalian! 


Rujukan:

Prasetya, W, A. (2019). “Kembali ke Masa Lalu Korea di Bukchon Hanok Village”. https://travel.kompas.com/read/2019/04/10/090200427/kembali-ke-masa-lalu-korea-di-bukchon-hanok-village?page=all