Sampurasun sadayana! Ayeuna Linguo bade ngabahas basa Sunda, yeuh.

Pasti kalian sudah pada tahu, ya, kalau bahasa Sunda merupakan salah satu bahasa daerah kebanggaan Indonesia. Bahkan bahasa ini memiliki penutur sebanyak lebih dari 30 juta orang dan menempati ranking ke-2 sebagai bahasa daerah dengan penutur terbanyak di Indonesia, lho. Wah, keren, ya!

Tapi…tahukah kalian bahwa penutur bahasa Sunda sudah semakin berkurang? Faktanya, berdasarkan Badan Pusat Statistik, bahasa Sunda telah kehilangan 2 juta penutur dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Wah, sangat disayangkan, ya. Nah, maka dari itu, Linguo mau mengajak kalian untuk belajar bahasa Sunda, nih. Untuk permulaan, hal paling mendasar dan penting untuk kalian ketahui, yaitu tentang undak usuk bahasa Sunda. Penasaran? Yuk, baca sampai akhir!

Apa Itu Undak Usuk?

Seperti yang kalian tahu, masyarakat Sunda terkenal sekali dengan keramahannya. Cara mereka berbicara terkesan sangat sopan karena mereka menjunjung tinggi tata krama dalam berbahasa. Tentu hal ini berkaitan dengan sistem Undak Usuk Bahasa Sunda (UUBS) yang mereka pakai setiap harinya. Sederhananya, istilah undak usuk (tingkat tutur) merujuk kepada ragam bahasa yang dipakai seseorang dalam berinteraksi dengan lawan bicara.

Dalam memilih ragam bahasa yang tepat, sang penutur harus memperhatikan latar belakang dari lawan bicara, seperti usia, status sosial, pendidikan, profesi, dan sebagainya. Pemilihan UUBS akan mempengaruhi kosakata yang akan dipakai nantinya. Pemakaian diksi kata kerja, kata ganti orang, kata benda untuk keterangan tempat, dan kata sifat akan mempengaruhi tingkat kesopanan dalam berbahasa. Tak hanya itu, intonasi tertentu yang digunakan sang penutur pun akan memberikan kesan kesantunan, lho.

Kenapa Bahasa Sunda Menggunakan Undak Usuk?

Sebelum munculnya undak usuk, masyarakat bumi Pasundan menggunakan bahasa Sunda Buhun, yang mana dalam penggunaannya tidak memandang strata sosial lawan bicara. Bahasa ini digunakan karena pada saat itu masyarakatnya masih menjunjung tinggi sifat-sifat kekeluargaan dalam keseharian mereka. Lalu, pada abad ke-17, bahasa Sunda Buhun pun ditinggalkan karena adanya pengaruh perluasan wilayah yang dilakukan Kerajaan Mataram Jawa ke wilayah Priangan (Jawa Barat bagian tengah dan selatan) ,  di bawah pimpinan Sultan Agung.

Penggunaan undak usuk pun akhirnya digunakan karena adanya pergantian sistem produksi dari ladang berpindah (ngahuma) ke bersawah menetap. Dalam menjalankan sistem bersawah menetap ini diperlukan stratifikasi sosial yang tegas antara orang-orang yang terlibat dalam produksinya. Tentunya, penggunaan undha usuk bahasa Jawa ngoko dan kromo pun diadaptasi untuk menghormati orang-orang yang berstatus sosial tinggi.

Menariknya, tidak semua masyarakat Sunda mengenal undak usuk, lho. Faktanya, masih ada masyarakat yang menggunakan bahasa Sunda Buhun dalam interaksi sehari-harinya, seperti suku Baduy (di Banten Selatan), masyarakat Cibingbin (di Kuningan), dan masyarakat pedesaan lainnya. Jadi, tak usah kaget, ya, kalau mendengar percakapan mereka yang terkesan kasar atau tabu karena pemakaian bahasa Sunda Buhun sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat tersebut.

Apa Saja Undak Usuk dalam Bahasa Sunda?

Pembagian undak usuk sendiri sebenarnya sangat beragam. Ada yang mengajukan 3 hingga 6 kategori dalam masing-masing pembagiannya. Namun, kali ini, Linguo mau mengenalkan kalian dengan 3 tingkat umum dalam UUBS, yaitu bahasa halus/lemes, sedang/loma, dan kasar.

Bahasa Halus/Lemes

Ragam bahasa ini digunakan untuk berbicara dengan orang yang memiliki latar belakang lebih tinggi dari sang penutur dan juga untuk berinteraksi dengan orang yang baru saja dikenal atau belum akrab. Sebenarnya, ragam bahasa ini sah saja diucapkan kepada orang yang status sosialnya lebih rendah dari si penutur sebagai upaya untuk menghargai mereka.

Pada dasarnya, bahasa lemes digunakan untuk menunjukkan rasa hormat kepada lawan bicara, orang yang dibicarakan, dan bahkan diri sendiri. Oleh karena itu, ragam bahasa ini pun dibagi menjadi 2 macam:

a. Bahasa halus untuk diri sendiri (Persona 1)

Ragam bahasa sopan ini digunakan untuk menyebut atau merujuk ke diri sendiri di depan lawan bicara yang seumuran, lebih muda, atau lebih tua. Tentunya, bahasa halus ini digunakan untuk menghormati diri kita sendiri di depan orang lain.

b. Bahasa halus untuk orang lain (Persona 2 dan persona 3)

Diksi dalam ragam bahasa santun untuk orang lain dipakai dalam hal yang berkenaan dengan lawan bicara atau orang yang sedang dibicarakan, baik seumuran, lebih muda, atau lebih tua. Walaupun sesama bahasa halus, diksi yang digunakan untuk orang lain akan berbeda dengan bahasa halus untuk persona 1.

Bahasa Sedang/Loma

Bahasa loma adalah ragam bahasa yang dipakai untuk berinteraksi dengan lawan bicara yang sudah akrab dan dalam keadaan santai. Pemakaian diksi bahasa sedang pun cocok untuk membicarakan orang ketiga yang sudah dianggap dekat.

Bahasa Kasar/Cohag/Barihal

Nah, bahasa kasar dikenal sebagai ragam bahasa yang sangat tabu sehingga sang penutur tidak seharusnya memakai bahasa ini secara asal. Bahasa cohag atau barihal diucapkan untuk mengekspresikan amarah saat berkelahi atau untuk menghina orang lain. Penggunaan ragam bahasa ini pun dipakai untuk menyebut sesuatu yang berhubungan dengan binatang, seperti kata hulu anjing yang berarti kepala anjing. Yuk, cek tabel di bawah supaya tahu bagaimana perbedaan kosakata antar tingkatnya.

Wah, ternyata menarik sekali, ya, bahasa Sunda. Kira-kira dari kalian ada yang ingin mencoba mempelajarinya? Lumayan, lho, kalian bisa ikut berbincang santai dengan keluarga besar saat pulang kampung nanti! Atau bahkan kalian bisa mengakrabkan diri lebih dekat dengan kenalan kalian yang orang Sunda. Pun, kalian akan termasuk sebagai masyarakat Indonesia yang berkontribusi dalam melestarikan bahasa daerah, lho.

Meskipun terdapat sistem undak usuk dalam bahasa Sunda, kalian jangan pasrah dulu, ya, sebelum mencoba mempelajarinya! Yang pasti, bahasa Sunda tidak sesulit yang kalian pikirkan, kok. Dengan kemauan yang kuat untuk mempelajarinya, kalian pasti akan terbiasa dalam memilih diksi yang sesuai, terlebih lagi jika kalian tinggal di lingkungan Sunda.

Nah, untuk kalian yang jarang terekspos dengan bahasa Sunda, kalian tak perlu khawatir. Walaupun orang-orang sekitar kalian tidak berbicara bahasa Sunda, kalian tetap bisa belajar bersama Linguo, lho. Di kelas bahasa Sunda Linguo, kalian akan diajarkan untuk bercakap-cakap menggunakan bahasa tersebut bersama urang sunda aslinya! Cukup dengan Rp150.000, kalian bisa membiasakan diri untuk aktif belajar bahasa Sunda selama 2 bulan. Wah, keren, kan? Yuk, langsung gabung kelas bahasa Sunda Linguo sebelum masa pendaftarannya ditutup!