Bahasa Georgia dipakai sekitar 4 juta orang dan tidak punya kerabat dekat di antara bahasa-bahasa besar dunia. Georgia bukan rumpun Indo-Eropa, bukan Turkik, bukan Semit — ia berdiri sendiri di rumpun Kartveli bersama beberapa bahasa tetangganya. Artinya, kosakatanya nyaris tidak bisa ditebak dari bahasa lain yang mungkin sudah kamu kuasai.
Alasan paling umum orang Indonesia belajar bahasa Georgia adalah kuliah kedokteran. Universitas di Tbilisi dan Batumi membuka program berbahasa Inggris dengan biaya yang jauh lebih ringan dibanding Eropa Barat, dan mahasiswa Indonesia di sana bertambah tiap tahun. Kuliahnya memang berbahasa Inggris, tapi hidup sehari-hari, urusan izin tinggal, apotek, pasar, dan rumah sakit tempat koas berjalan dalam bahasa Georgia.
Alasan kedua adalah pariwisata dan kerja. Georgia membebaskan visa untuk banyak paspor dan menjadi tujuan digital nomad yang tumbuh cepat. Di luar Tbilisi, bahasa Inggris cepat menipis. Kemampuan membaca aksara Georgia saja sudah mengubah perjalanan secara drastis — dari menebak-nebak papan nama menjadi bisa membaca menu, jadwal marshrutka, dan nama jalan.