
Dua puluh unit belajar mandiri bergaya Assimil untuk bahasa Melayu — satu-satunya modul di rak ini yang TIDAK memulai dari nol, karena kamu memang tidak memulai dari nol. Penutur bahasa Indonesia sudah membawa sekitar tujuh puluh persen bahasa Melayu di kepalanya: tata bahasanya nyaris kembar, imbuhannya sama, ribuan katanya identik. Modul ini memasang tiga puluh persen sisanya — bagian yang justru paling sering membuat malu. Kata jebakan yang artinya berlawanan di dua negara (percuma, seronok, pusing, kereta, budak, pejabat, bisa), sebutan Johor-Riau yang membuat 'apa' keluar sebagai 'apə', kosakata Malaysia yang diserap dari bahasa Inggris sementara bahasa Indonesia menyerap dari bahasa Belanda, partikel -lah dan ke yang menentukan apakah kalimatmu terdengar sopan atau kasar, bahasa pasar (tak, nak, kat, je, dah) yang dipakai orang sungguhan, sampai satu unit penuh tulisan Jawi supaya papan tanda di Kelantan tidak lagi jadi gambar. Dialognya mengikuti mahasiswa Indonesia yang baru mendarat di Kuala Lumpur, dan yang dibicarakan sengaja hal-hal biasa: teh tarik di mamak, tandas di stesen LRT, borang di bank, jemputan kenduri.
Coba dulu sebelum beli — Unit 1 terbuka penuh, gratis, tanpa perlu daftar.